Sabtu, 29 Oktober 2016

Aktivitas Enzim Amilase

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI HEWAN
“AKTIVITAS ENZIM AMILASE”
Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Praktikum Fisiologi Hewan yang diampu oleh Siti Nurkamilah, M.Pd



Disusun oleh :
Kelompok 1
Saprudin Amin
14541007
Estu Sari Rahayu
14541038
Annisa Maspupah Anggraeni
14541048
Diana Indra Bulan
14541029
Vika Mutiar
14541008
Reza Baihaqi
14541004
Ai Lisdawati
14541022
Eli Latipah
12541013

 
PENDIDIKAN BIOLOGI
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
(STKIP) GARUT
2016
 



A.      Tujuan
-          Mengetahui dan memahami proses pencernaan makanan dengan bantuan saliva
-          Untuk mengetahui pengaruh temperatur terhadap kerja enzim amilase

B.       Alat dan Bahan
a.       Alat yang digunakan :
-          Tabung Reaksi
-          Rak Tabung Reaksi
-          Spatula
-          Penjepit
-          Pipet Tetes
-          Termometer
-          Corong
-          Kaki Kasa 3
-          Bunsen
-          Nampan
-          Gelas Kimia
-          Kain Kasa
b.      Bahan yang digunakan :
-          Spirtus
-          Saliva
-          Larutan Iodium
-          Larutan Amilase
-          Aquades

C.      Langkah Kerja
1.      Menyaring air liur atau saliva dengan kain kasa
2.      Menyediakan tiga buah penangas air dan kemudian memanaskannya sampai suhu normal ruang, 37⁰ dan 90⁰ celcius.
3.      Memasukan larutan amilum sebanyak 5 ml ke dalam tabung reaksi sebanyak 3 buah.
4.      Memasukan tabung reaksi ke dalam penangas air yang telah di siapkan.
5.      Memasukan 15 tetes saliva ke setiap tabung setelah di panaskan masing-masing 10 menit.
6.      Memasukan larutan lugol setiap 1 menit sekali sampai titik achromatis dan mencatat waktu perubahan warnanya.
7.      Menjaga tabung reaksi dengan suhu konstan yang telah di tentukan dan tidak boleh di keluarkan dari air penangas.
8.      Membandingkan hasil dari masing-masing tabung percobaan.
D.      Hasil dan Pembahasan
a.       Hasil Pengamatan
Tabel hasil pengamatan dengan menggunakan Iodium
No
Waktu
(1 menit)
Perubahan warna
24°C
37-38°C
>90°C
1
Ke 1
Biru +
Biru ++
Biru ++
2
Ke 2
Biru ++
-
Biru ++
3
Ke 3
Biru ++
Biru ++
Biru +++
4
Ke 4
Ungu ++
Biru +++
Biru +++
5
Ke 5
Ungu +++
Biru ++
Biru +++
6
Ke 6
Ungu +++
Biru ++
Ungu +++
7
Ke 7
Ungu +++
Biru ++
Ungu +++
8
Ke 8
Ungu +++
Biru ++
Ungu +++
9
Ke 9
Ungu +++
Biru ++
Ungu +++
10
Ke 10
Ungu +++
Biru ++
Ungu +++

Keterangan : tanda (+) adalah tanda dimana, jika :
·         +++ = sangat pekat
·         ++   = cukup pekat
·         +     = kurang pekat
·          -      = achromatis

b.      Pembahasan
Pada percobaan yang telah kelompok kami lakukan yaitu uji enzim amylase melalui air ludah atau saliva. Praktikum kali ini menguji kerja enzim amilase terhadap beberapa suhu yaitu suhu 24°C, 37-38°C dan > 90°C dengan diberikan larutan iodium dengan  hasil yang berbeda-beda. Dalam hal pencernaan, air liur berperan dalam membantu pencernaan karbohidrat. Karbohidrat atau tepung sudah mulai dipecah sebagian kecil dalam mulut oleh enzim ptyalin. Enzim dalam air liur itu memecah amylum menjadi disakarida maltosa dan polimer glukosa kecil lainnya. Air liur (saliva) disekresi oleh tiga pasang kelenjar besar yaitu parotis, submaksilaris dan sublingualis. Air liur parotis merupakan cairan hipotonis yang sangat encer dengan konsentrasi zat padat yang rendah; air liur submaksilaris dapat kental maupun encer tergantung pada rangsang simpatis atau para simpatisan; air liur sublingualis mengandung banyak musin. Selain itu air liur juga disekresi oleh beberapa kelenjar kecil dalam mukosa mulut seperti labialis, lingualis, bukal dan palatal. Sekresi air liur dari kelenjar ke dalam mulut dapat disebabkan oleh rangsangan lokal dalam mulut atau oleh perangsangan pusat akibat rangsang psikis atau somatik (Poedjaji 1994). 
Dalam reaksi yang terjadi, enzim amilase berperan aktif sebagai katalis yang akan mempercepat laju reaksi penguraian larutan pati (amilum) menjadi amilosa dan amilopektin. Larutan iodium berperan sebagi indikator warna untuk menandai aktivitas enzim amilase pada larutan pati. Enzim amilase dapat memecah ikatan-ikatan pada amilum hingga terbentuk maltosa (Maryati 2000). Larutan iodium yang di gunakan berfungsi sebagai indikator terhadap proses terjadinya reaksi yang di tandai dengan adanya perubahan warna.
Pada sampel larutan amilum yang di simpan pada suhu ruangan yaitu 24ºC, sampel yang di beri larutan iodium mengalami perubahan warna menjadi berwana biru yang cukup pekat. Hal ini terjadi karena pada suhu ini enzim masih dapat bekerja, kemudian mengalami achromatis atau tidak mengalami perubahan warna lagi (putih seperti larutan amilum) pada 42 detik ke 2, hal ini menandakan jika enzim amilase mulai bekerja memecah amilum dan terdapat endapan amilum. Pada suhu ini mengalami pengilangan yang sangat lama karena semakin rendah pH maka semakin sedikit substrat yang telah terdegradasi atau terhidrolisis sedangkan semakin banyak amilum dalam larutan uji (semakin sedikit amilum yang telah terhidrolisis) maka warna yang di hasilkan juga tidak cepat pudar.
Pada suhu 37ºC - 38ºC larutan amilum yang diberi tetesan iodium mengalami perubahan warna menjadi biru yang cukup pekat pada menit ke 1 dan mencapai  titik achromatis atau tidak mengalami perubahan warna lagi (putih seperti larutan amilum) pada 23 detik ke 2, hal ini menandakan jika enzim amilase mulai bekerja memecah amilum. Pada menit ke 4 berwana biru yang sangat pekat lalu berubah menjadi kurang pekat, hal ini dikarenakan glukosa yang terkandung dalam larutan amilum bereaksi dengan ion  dari kuprisulfat yang terkandung dalam larutan iodium sehingga menghasilkan warna biru. Hal ini terjadi karena pada umumnya enzim memiliki suhu optimum sekitar 30ºC - 60ºC. Pada tabung reaksi ini terdapat endapan amilum sehingga enzim amilese yang terkandung dalam air liur dapat memecah amilum dengan baik. Pada suhu ini mengalami pengilangan yang cepat karena semakin tinggi pH maka semakin banyak substrat yang telah terdegradasi atau terhidrolisis sedangkan semakin sedikit amilum dalam larutan uji (semakin banyak amilum yang telah terhidrolisis) maka warna yang dihasilkan juga akan semakin pudar.
Menurut sumber Enzim amilase bekerja optimum pada pH 4.5 – 4.7, tetapi kisaran pH optimum bergantung pada jenis enzim amilase dan sumbernya. Berdasarkan penelitian AOAC (Association of Analytic Chemist) tahun 1995 kisaran pH optimum untuk enzim α-amilase adalah 4.8 - 8.5. (Suarni, 2007). Jadi dengan penambahan sedikit basa enzim amilase dapat bekerja dengan optimum. Sementara penambahan sedikit asam menurunkan aktivitas enzim amilase.
Pada suhu maksimum > 90oC, keadaan larutan amilum yang ditetesi iodium mengalami perubahan warna menjadi biru yang sangat pekat pada 1 menit ke 3, hal ini terjadi karena glukosa yang terkandung dalam larutan amilum bereaksi dengan ion  dari kuprisulfat menjadi  yang kemudian mengendap. Pada 1 menit ke 6 perubahan warna menjadi ungu yang sangat pekat sampai akhirnya mencapai titik achromatis pada 32 detik ke 6, hal ini karena enzim amilase masih dapat bekerja pada suhu yang tinggi, karena suhu yang tinggi dapat mempercepat laju reaksi sampai akhirnya enzim kan terdenaturasi atau rusak akibat suhu yang terlalu tinggi. Pada tabung reaksi ini tidak terdapat endapan  karena mengalami denaturasi atau kerusakan karena enzim terdiri atas protein dan protein akan menggali kerusakan ada suhu yang lebih dari 60ºC. Pada suhu ini mengalami pengilangan yang cukup lama.
Dari ketiga tabung reaksi tersebut suhu sangat berpengaruh terhadap aktivitas enzim . Setiap enzim mempunyai suhu optimum, yaitu suhu dimana enzim memiliki aktivitas maksimal. Enzim didalam tubuh manusia mempunyai suhu optimal sekitar 37ºC. Di bawah atau di atas suhu optimum, aktivitas enzim menurun. Suhu mendekati titik beku tidak merusak enzim, tetapi enzim tidak aktif. Jika suhu dinaikkan, maka aktivitas enzim meningkat. Namun, kenaikan enzim yang cukup besar dapat menyebabkan enzim mengalami denaturasi dan mematikan aktivitas katalisnya. Sebaian enzim mengalami denaturasi pada suhu di atas 60ºC. Selain itu pH juga berpengaruh terhadap aktivitas enzim karena enzim bekerja pada pH tertentu, umumnya pada pH sekitar 6-8. Setiap enzim mempunyai pH optimum yang khas, pH optimum enzim umumnya adalah sekitar pH jaringan di mana enzim berada. Beberapa enzim ada yang aktivitasnya pada pH tinggi dan ada pula yang pada pH rendah. Misalnya, pepsin merupakan enzim pencernaan yang terdapat dalam usus halus dan memiliki pH 7,7. Pada pH jauh diatas pH optimum, enzim akan mengalami denaturasi.

E.       Kesimpulan
Kesimpulan dari percobaan ini adalah salah satu faktor yang mempengaruhi kerja enzim yaitu suhu. Enzim amilase dapat menguraikan larutan pati yang terdapat dalam kentang Solanum tuberosum. Pada suhu rendah reaksi kimia berlangsung lambat, sedangkan pada suhu tinggi reaksi kimia dapat berlangsung lebih cepat. Enzim merupakan biokatalisator yang tersusun atas suatu protein maka kenaikan suhu dapat menyebabkan denaturasi dan bagian aktif enzim akan terganggu sehingga konsentrasi dan kecepatan enzim berkurang. Pada umumnya enzim memiliki suhu optimum tertentu yaitu antara 30ºC - 60ºC, sehingga sebagian besar enzim akan terdenaturasi pada suhu diatas 60ºC. Enzim amylase pada saliva yang telah di uji lebih cocok pada suhu 24ºC.

F.       Daftar Pustaka
Poedjiadi, A. 1994. Dasar-Dasar Biokimia. UI-Prees, Jakarta.
Maryati. 2000. Maltosa. Fitramaya, Yogyakarta.
Suarni. 2007. AOAC (Association of Analytic Chemist). UNHAS, Makassar.
Sadikin, Mohammad, dkk. 2001. Biokimia Eksperimen Laboratorium.     Widya  Medika, Jakarta.
Yuniastuti, Ari. 2007. Gizi dan Kesehatan. Graha Ilmu, Yogyakarta.